Halo semua... Sudah lama tidak upload. Ini dia cerita pertama pada tahun 2020. Selamat tahun 2020!
Adik
“Oh
tidak, apa yang sudah kulakukan?” tanyaku sembari tersedu-sedu. Aku
sudah membunuh adikku. Beginilah ceritanya...
Aku
merupakan anak pertama. Aku lahir pada 4 April 2000. Keluargaku
memang pas-pasan. Ayah bekerja sebagai buruh, dan Ibu sebagai
pembantu. Meski begitu, mereka tetap menyayangiku. Aku merasa, bahwa
aku akan selalu disayang, tak pernah digantikan. Tapi...
Ibu
hamil, adikku sedang dikandung. Aku tidak terlalu mengerti, semenjak
aku masih berumur tiga setengah tahun. 9 bulan kemudian, adikku
lahir. Adikku lahir pada tanggal 25 November 2003. Sejak saat itu,
orang tuaku selalu memperhatikan adikku. Mereka hampir tidak
memperhatikanku.
Saat
aku SD, aku pendiam. Aku hampir tidak punya teman. Aku selalu
dirundung, dipalak, dihina. Aku marah, tapi tidak bisa melawan.
Akhirnya, aku lampiaskan kemarahanku pada adik. Aku selalu teriak
kepadanya, menyuruhnya, bahkan memukulinya jika aku kesal. Aku masih
punya rasa iba kepada adikku, karena dia masih kecil. Orang tuaku
tentu tidak senang, dan selalu menghukumku karena itu.
Aku
akhirnya masuk SMP. Aku juga masuk ke masa remajaku. Keadaan sudah
agak membaik, aku mulai punya banyak teman. Tapi, aku sudah remaja,
dan aku lebih mudah emosi dan kesabaranku mudah hilang. Keadaan di
rumah juga tidak terlalu baik. Ibu dan Ayah sudah mulai tua, dan
sakit-sakitan. Aku pun akhirnya harus menggantikan pekerjaan mereka,
dan tidak dengan adikku, meskipun ia sudah kelas 4 SD.
“Tidak
adil!” gumamku dalam hati. Aku makin membenci adikku.
Masa
SMA pun datang. Aku menjadi anak populer di SMA. Aku juga mulai
menjadi perundung murid-murid lain. Kedua orang tuaku meninggal saat
aku kelas 3 SMA. Aku tidak punya pilihan selain merawat adikku yang
kubenci. Aku makin membenci adikku, karena aku harus banting tulang,
selagi adikku tidak melakukan apa-apa.
Beralih
ke hari ini, kebencianku dengan adikku sudah tak terbendung. Aku
memikirkan cara untuk membunuh adikku, dan akhirnya kutemukan ide.
Aku
memutuskan untuk membelikan adikku kue, dan berpura-pura baik
dengannya. Tanpa adikku tahu, kue itu sudah kuracuni.
Saat
kuberikan kue itu, adikku berkata, “Beneran, kak?”.
Aku pun berkata, “Iya, dek. Maaf ya kakak sudah jahat.”
“Iya kak,” kata adikku, memaafkanku.
Adik pun memakan kue itu, dan... plek. Ia jatuh ke lantai.
Aku pun berkata, “Iya, dek. Maaf ya kakak sudah jahat.”
“Iya kak,” kata adikku, memaafkanku.
Adik pun memakan kue itu, dan... plek. Ia jatuh ke lantai.
Aku
langsung menusuknya di punggung. Aku menusuknya dengan pelan-pelan,
sampai ia mati. “Oh tidak, apa yang sudah kulakukan?”. Aku
tersedu-sedu, menyadari apa yang sudah kulakukan.
Polisi
pun berdatangan, dan mereka menangkapku.
“Aku
akan dihukum, kan?” tanyaku.
“Kita
akan lihat di pengadilan nanti,” kata salah satu polisi.
Aku
pun dijatuhi hukuman mati.
Komentar
Posting Komentar