Langsung ke konten utama

Petualangan Dimensi (Part 2)

Jika belum membaca part 1, harap klik disini

Petualangan Dimensi
(Part 2 Investigasi)

Mereka pun sampai di sebuah dimensi, dimensi yang asing. 
“Kita ada dimana?” tanya Hilmiya. 
“Kita ada di sebuah dimensi. Aku bisa merasakan keberadaan mereka” kata Tuan Gregor. “Siapa “mereka” itu?” tanya Steva. 
“Novia dan James. Mereka adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai penjelajah dimensi, sama seperti saya. Mereka hilang 14 tahun yang lalu.” Kata Tuan Gregor. 
“Jadi, orang yang hilang 14 tahun yang lalu itu bukan legenda?” tanya Lisa. “Memang, ayo kita jelajahi dimensi ini.” kata Tuan Gregor. 
“Ayo” kata Steva, Hilmiya, dan Lisa bersamaan.
Setelah beberapa lama menjelajah, mereka belum menemukan apapun. 
“Tuan, aku capek. Bolehkah kita istirahat?” tanya Lisa. “Tunggu, aku belum- Oh, aku melihat sesuatu, dan kurasa kita harus menghindarinya.” Kata Tuan Gregor. 
“Apa itu?” tanya Steva. “Penghuni dimensi ini, sebaiknya kita menyamar seperti mereka, agar tidak ada yang curiga.” Kata Tuan Gregor. 
“Gimana caranya?” tanya Hilmiya. 
“Dengan ini.” Kata Tuan Gregor sembari menaburkan serbuk pengubah. “Apa ini? Aku terlihat buruk!” keluh Lisa. 
“Itulah penghuni dimensi ini. Kita harus mencari Novia dan James lalu membawa mereka kembali” kata Tuan Gregor. 
“Oh iya, ini dimensi apa ya?” tanya Hilmiya. 
“Ah iya, ini dimensi 14-aDe. Penghuni disini mirip manusia, tapi dengan penampilan yang lebih buruk dan gelap. 1 tahun disini sama dengan 7 tahun di dimensi kita.” Kata Tuan Gregor. 
“Baiklah, ayo jelajahi dimensi ini. Tapi kita harus kemana?” tanya Steva. “Ke penjara Bastion, aku yakin mereka ditawan disana.” Kata Tuan Gregor.
Mereka berempat pun berjalan kesana. Lisa pun bertanya “Bagaimana kau tahu kalau mereka ditawan di sana?”. 
“Oh, karena saya sebenarnya sudah pernah kesini, lama sekali” kata Tuan Gregor. 
“Bisa diceritakan?” tanya Lisa. 
“Nanti saja, kata Tuan Gregor. 
“Ini tempatnya? Besar sekali.” kagum Hilmiya. “Memang, mari masuk” kata Tuan Gregor. 
“Tapi kan, gimana kalau kita ketahuan?” tanya Steva. “Tidak apa-apa. Serbuk ini kan bisa membuat kita tak terlihat, setidaknya untuk beberapa jam” kata Tuan Gregor. 
“Oke, yuk masuk.” ajak Hilmiya. 
Mereka berempat berjalan melewati penjaga, dan… mereka tidak ketahuan. 
“Wah, kita tidak ketahuan.” kagum Lisa. 
“Sebentar, kita kan nggak pernah kesini, kalau kita hilang gimana?” tanya Hilmiya. 
“Sebenarnya, saya sudah pernah kesini. Sebelum Ratu Meilia menguasai dimensi ini.” kata Tuan Gregor. “Siapa itu Ratu Meilia?” tanya Lisa. 
“Ratu Meilia itu ratu yang sangat jahat. Ia adalah orang yang angkuh, iri, dan haus kekuasaan. Sebelum ia berkuasa, dimensi ini tentram, dan dihuni manusia seperti kita. Tapi, semenjak ia berkuasa, semua berubah drastis.” cerita Tuan Gregor. 
“Ohh” kagum Lisa, Steva, dan Hilmiya bersamaan.
Setelah berjalan agak lama, mereka sampai di tempat Novia dan James ditahan. 
“Ini tempatnya” kata Tuan Gregor. “Ya ampun, tempat apa ini?” tanya Lisa. 
“Ini adalah bagian “penyusup”, tempat orang-orang dari dimensi lain ditahan. Ayo, kita selamatkan Novia dan James” kata Tuan Gregor. 
Mereka berempat pun berjalan menuju sel Novia dan James. 
“Novia, James, ini aku” kata Tuan Gregor pelan. “Gregor? Itu kau? Siapa anak-anak denganmu itu?” tanya Novia. 
“Nanti saja ceritanya, mari keluar” kata Tuan Gregor. “Tapi sel kita dikunci” kata James. 
“Aku ada kuncinya” kata Tuan Gregor. Tuan Gregor pun membuka kunci sel Novia dan James, mereka berdua pun bisa keluar dari selnya. 
Tiba-tiba, efek serbuk pengubah hilang, dan mereka kembali ke wujud semula. Sebuah penjaga melihat mereka, dan berteriak “TANGKAP MEREKA!!” sembari memanggil penjaga lain. Sadar ketahuan, mereka berenam pun berlari, para penjaga pun mengejar. 
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Lisa panik. “Tak apa-apa, aku punya pembuka portal.” kata Tuan Gregor. 
Ia pun menembakkan alat itu, dan sebuah portal terbuka. “Cepat masuk!” seru Tuan Gregor. Mereka berenam pun masuk, dan terbawa ke dimensi lain.
Mereka keluar dari portal batu itu lagi. 
“Kita kembali!” kata Steva. “Yay! Aku kangen rumah” kata Lisa. “Akhirnya” kata Hilmiya. 
“Kita sudah kembali. Omong-omong, berapa lama kita sudah pergi?” tanya James. 
“6 bulan kira – kira” kata Tuan Gregor. 
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Novia. 
“Mari kembali ke rumahku saja” kata Tuan Gregor. 
“Oke” kata Lisa, Hilmiya, Steva, Novia, dan James hamper bersamaan.
Kepulangan mereka memasuki berita utama. Para wartawan mendatangi mereka. Orang-orang pun percaya akan penjelajahan dimensi dan banyak yang tertarik akan penjelajahan dimensi.
“Omong-omong, kenapa kalian kesana?” tanya Tuan Gregor.
James berkata, “Sebenarnya, kita belum mencapai tujuan kita."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimpi

Mimpi “Nak, sudah jam 9, ayo tidur,” kata Mama kepadaku. “Ya, mah.” Aku pun naik ke kamarku, dan beranjak tidur. Sebenarnya, beberapa hari ini aku susah tidur. Aku selalu dirundung mimpi buruk yang terlihat nyata. Aku berdoa, semoga malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Lalu, aku pun tidur. Setelah beberapa saat, aku mulai bermimpi. Aku mengimpikan tentang keluargaku. Aku melihat papaku, mamaku, aku, dan adikku. “Wah, mimpi yang indah,” kataku dalam mimpi. Tapi, aku merasakan ada yang aneh. Tiba-tiba, mimpiku berubah drastis. Aku melihat Papa dan Liza, adikku. Mereka sedang naik pesawat. “Tunggu, Papa sama adek kan lagi naik pesawat,” pikirku dalam mimpi. Dan, aku melihat pesawat yang ditumpangi mereka jatuh. “Tidak!” teriakku sambil menangis, dalam mimpi. Mimpi buruk itu membuatku terbangun. “Ya ampun, semoga itu hanya mimpi,” kataku. Mama masuk ke kamarku, dengan wajah sedih. “Kenapa, ma?” tanyaku. “Nak, pesawat papa dan adi...

Bunga Melati

      Bunga Melati Sudah lama aku berada di luar negeri untuk kuliahku, namun tahun ini, aku mendapat kesempatan untuk pulang. Aku pulang menggunakan pesawat. Sesampainya di rumah, seluruh keluarga menyambutku.  “Ardi!”, sahut kedua orang tuaku sembari memelukku.  “Kak Ardi!”, teriak adikku girang.  "Halo dek, kakak bawa oleh-oleh buat kamu.", kataku.  "Apa kak?", tanya adikku.  "Ini dia...", kataku sambil mengeluarkan sebuah mainan.  "Mainan dinosaurus!", teriak adikku girang sambil bermain-main dengan mainannya.      "Ardi, gimana kuliahnya, nak?", tanya Ibu.       "Lumayan. Ardi juga sudah wisuda lho bu! Oh iya, Siti gimana?”, tanyaku.       “Oh Siti, dia kayaknya di rumahnya lagi merawat melatinya”, kata Ayah.       “Masih nanam melati? Siti nggak kerja yang lain?”, tanyaku.      “Ardi, itu kan pekerjaan warisan orang tuanya, jad...