Sudah lama aku berada di luar negeri untuk kuliahku, namun tahun
ini, aku mendapat kesempatan untuk pulang. Aku pulang menggunakan pesawat.
Sesampainya di rumah, seluruh keluarga menyambutku.
“Ardi!”, sahut kedua orang tuaku sembari memelukku.
“Kak Ardi!”, teriak adikku girang.
"Halo dek, kakak bawa oleh-oleh buat kamu.", kataku.
"Apa kak?", tanya adikku.
"Ini dia...", kataku sambil mengeluarkan sebuah mainan.
"Mainan dinosaurus!", teriak adikku girang sambil bermain-main dengan mainannya.
“Ardi!”, sahut kedua orang tuaku sembari memelukku.
“Kak Ardi!”, teriak adikku girang.
"Halo dek, kakak bawa oleh-oleh buat kamu.", kataku.
"Apa kak?", tanya adikku.
"Ini dia...", kataku sambil mengeluarkan sebuah mainan.
"Mainan dinosaurus!", teriak adikku girang sambil bermain-main dengan mainannya.
"Ardi,
gimana kuliahnya, nak?", tanya Ibu.
"Lumayan. Ardi juga sudah wisuda lho bu! Oh iya, Siti gimana?”, tanyaku.
“Oh Siti, dia kayaknya di rumahnya lagi merawat melatinya”, kata Ayah.
“Masih nanam melati? Siti nggak kerja yang lain?”, tanyaku.
“Ardi, itu kan pekerjaan warisan orang tuanya, jadi harus dijaga. Coba kalau ibu mewariskan pekerjaan ibu sama Ardi, pasti dikerjakan, iya kan?”, tanya Ibu.
“Iya bu”, kataku.
"Lumayan. Ardi juga sudah wisuda lho bu! Oh iya, Siti gimana?”, tanyaku.
“Oh Siti, dia kayaknya di rumahnya lagi merawat melatinya”, kata Ayah.
“Masih nanam melati? Siti nggak kerja yang lain?”, tanyaku.
“Ardi, itu kan pekerjaan warisan orang tuanya, jadi harus dijaga. Coba kalau ibu mewariskan pekerjaan ibu sama Ardi, pasti dikerjakan, iya kan?”, tanya Ibu.
“Iya bu”, kataku.
Karena aku penasaran, Akhirnya aku memutuskan untuk
mengunjungi rumahnya. Sesampainya, aku mengetuk pintu rumahnya, “Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam”, sebuah wanita muda keluar dari rumahnya, “Siapa ini?”.
“Ini Ardi, kamu masih ingat kan?”, tanyaku.
“Ya ampun, kamu udah pulang Di? Gimana kuliahnya di Jerman?”, tanya Siti.
“Baik-baik aja. Kamu masih menanam melati?”, tanyaku.
“Iya. Itukan warisan orang tuaku. Kamu mau lihat?”, tanya Siti. “Boleh”, kataku. Kamipun pergi ke kebun melatinya.
“Ini Ardi, kamu masih ingat kan?”, tanyaku.
“Ya ampun, kamu udah pulang Di? Gimana kuliahnya di Jerman?”, tanya Siti.
“Baik-baik aja. Kamu masih menanam melati?”, tanyaku.
“Iya. Itukan warisan orang tuaku. Kamu mau lihat?”, tanya Siti. “Boleh”, kataku. Kamipun pergi ke kebun melatinya.
“Wah, cantiknya! Bungamu pasti laku banyak.”, kataku
memuji.
“Nggak juga, bungaku nggak terlalu laku.”, kata Siti.
“Loh, kok bisa?”, tanyaku heran.
“Peminatnya nggak banyak, Di. Lagian kalau dipromosiin biayanya mahal, kan juga nggak tau nanti laku apa nggak. Aku kan juga uangnya nggak sebanyak kamu.”, kata Siti hampir berkaca-kaca.
Akupun merasa iba, kasihan dengannya. Aku memutuskan untuk membantunya, sebagai sarjana di bidang ekonomi, aku akan mencari cara untuk membantunya.
“Aku boleh bantu kamu?”, tawarku. “Boleh, mau bantu gimana?”, tanya Siti.
“Itu surprise deh. Aku pulang dulu ya”, kataku. “Oke, dah!”.
“Nggak juga, bungaku nggak terlalu laku.”, kata Siti.
“Loh, kok bisa?”, tanyaku heran.
“Peminatnya nggak banyak, Di. Lagian kalau dipromosiin biayanya mahal, kan juga nggak tau nanti laku apa nggak. Aku kan juga uangnya nggak sebanyak kamu.”, kata Siti hampir berkaca-kaca.
Akupun merasa iba, kasihan dengannya. Aku memutuskan untuk membantunya, sebagai sarjana di bidang ekonomi, aku akan mencari cara untuk membantunya.
“Aku boleh bantu kamu?”, tawarku. “Boleh, mau bantu gimana?”, tanya Siti.
“Itu surprise deh. Aku pulang dulu ya”, kataku. “Oke, dah!”.
Di rumah, aku memikirkan cara untuk membantunya. “Gimana ya
caranya?”, tanyaku dalam hati keheranan.
Aku pun mencari inspirasi, dari koran, majalah, buku, bahkan internet, tapi belum kutemukan juga. Setelah berpikir keras, aku pun memutuskan untuk mempromosikan bunga melati milik Siti secara online.
Aku pun mencari inspirasi, dari koran, majalah, buku, bahkan internet, tapi belum kutemukan juga. Setelah berpikir keras, aku pun memutuskan untuk mempromosikan bunga melati milik Siti secara online.
Esoknya, aku mendatangi Siti lagi.
“Halo, Ti”, sapaku.
“Eh, halo Ardi. Gimana jadinya?”, sapa Siti sambil bertanya padaku.
“Kita tunggu sebentar”, kataku. Kami pun menunggu, menunggu, dan menunggu, sampai akhirnya, seseorang datang.
“Halo, perkenalkan saya, Dimas. Saya dari pabrik Teh Mlati. Saya tertarik dengan melati anda. Maukah anda menjadi supplier pabrik kami?”, tawar orang itu.
“Boleh”, kata Siti.
“Halo, Ti”, sapaku.
“Eh, halo Ardi. Gimana jadinya?”, sapa Siti sambil bertanya padaku.
“Kita tunggu sebentar”, kataku. Kami pun menunggu, menunggu, dan menunggu, sampai akhirnya, seseorang datang.
“Halo, perkenalkan saya, Dimas. Saya dari pabrik Teh Mlati. Saya tertarik dengan melati anda. Maukah anda menjadi supplier pabrik kami?”, tawar orang itu.
“Boleh”, kata Siti.
Beberapa tahun kemudian, Siti dan melatinya menjadi supplier pabrik-pabrik besar dan
ternama, termasuk Teh Mlati, Parfum Le Havre, dan lainnya. Ia pun menjadi
pengusaha sukses dengan melatinya.
“Ardi, makasih ya udah bantuin selama bertahun-tahun. Semoga ibu bisa tenang disana”, kata Siti.
“Tak masalah”, kataku.
Aku berharap usaha Siti bisa terus berjalan, dan tentunya, bisa memenuhi wasiat ibunya.
“Ardi, makasih ya udah bantuin selama bertahun-tahun. Semoga ibu bisa tenang disana”, kata Siti.
“Tak masalah”, kataku.
Aku berharap usaha Siti bisa terus berjalan, dan tentunya, bisa memenuhi wasiat ibunya.
Komentar
Posting Komentar