Langsung ke konten utama

Bunga Melati


     

Sudah lama aku berada di luar negeri untuk kuliahku, namun tahun ini, aku mendapat kesempatan untuk pulang. Aku pulang menggunakan pesawat. Sesampainya di rumah, seluruh keluarga menyambutku. 
“Ardi!”, sahut kedua orang tuaku sembari memelukku. 
“Kak Ardi!”, teriak adikku girang. 
"Halo dek, kakak bawa oleh-oleh buat kamu.", kataku. 
"Apa kak?", tanya adikku. 
"Ini dia...", kataku sambil mengeluarkan sebuah mainan. 
"Mainan dinosaurus!", teriak adikku girang sambil bermain-main dengan mainannya.
     "Ardi, gimana kuliahnya, nak?", tanya Ibu. 
     "Lumayan. Ardi juga sudah wisuda lho bu! Oh iya, Siti gimana?”, tanyaku. 
     “Oh Siti, dia kayaknya di rumahnya lagi merawat melatinya”, kata Ayah. 
     “Masih nanam melati? Siti nggak kerja yang lain?”, tanyaku. 
    “Ardi, itu kan pekerjaan warisan orang tuanya, jadi harus dijaga. Coba kalau ibu mewariskan pekerjaan ibu sama Ardi, pasti dikerjakan, iya kan?”, tanya Ibu. 
     “Iya bu”, kataku.
          Karena aku penasaran, Akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi rumahnya. Sesampainya, aku mengetuk pintu rumahnya, “Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam”, sebuah wanita muda keluar dari rumahnya, “Siapa ini?”. 
     “Ini Ardi, kamu masih ingat kan?”, tanyaku. 
     “Ya ampun, kamu udah pulang Di? Gimana kuliahnya di Jerman?”, tanya Siti. 
     “Baik-baik aja. Kamu masih menanam melati?”, tanyaku. 
     “Iya. Itukan warisan orang tuaku. Kamu mau lihat?”, tanya Siti. “Boleh”, kataku. Kamipun pergi ke kebun melatinya.
      “Wah, cantiknya! Bungamu pasti laku banyak.”, kataku memuji. 
     “Nggak juga, bungaku nggak terlalu laku.”, kata Siti. 
     “Loh, kok bisa?”, tanyaku heran. 
     “Peminatnya nggak banyak, Di. Lagian kalau dipromosiin biayanya mahal, kan juga nggak tau nanti laku apa nggak. Aku kan juga uangnya nggak sebanyak kamu.”, kata Siti hampir berkaca-kaca. 
  Akupun merasa iba, kasihan dengannya. Aku memutuskan untuk membantunya, sebagai sarjana di bidang ekonomi, aku akan mencari cara untuk membantunya. 
     “Aku boleh bantu kamu?”, tawarku. “Boleh, mau bantu gimana?”, tanya Siti. 
     “Itu surprise deh. Aku pulang dulu ya”, kataku. “Oke, dah!”.
     Di rumah, aku memikirkan cara untuk membantunya. “Gimana ya caranya?”, tanyaku dalam hati keheranan. 
   Aku pun mencari inspirasi, dari koran, majalah, buku, bahkan internet, tapi belum kutemukan juga. Setelah berpikir keras, aku pun memutuskan untuk mempromosikan bunga melati milik Siti secara online.
      Esoknya, aku mendatangi Siti lagi. 
      “Halo, Ti”, sapaku. 
      “Eh, halo Ardi. Gimana jadinya?”, sapa Siti sambil bertanya padaku. 
  “Kita tunggu sebentar”, kataku. Kami pun menunggu, menunggu, dan menunggu, sampai akhirnya, seseorang datang. 
   “Halo, perkenalkan saya, Dimas. Saya dari pabrik Teh Mlati. Saya tertarik dengan melati anda. Maukah anda menjadi supplier pabrik kami?”, tawar orang itu. 
     “Boleh”, kata Siti.
    Beberapa tahun kemudian, Siti dan melatinya menjadi supplier pabrik-pabrik besar dan ternama, termasuk Teh Mlati, Parfum Le Havre, dan lainnya. Ia pun menjadi pengusaha sukses dengan melatinya. 
     “Ardi, makasih ya udah bantuin selama bertahun-tahun. Semoga ibu bisa tenang disana”, kata Siti. 
    “Tak masalah”, kataku.
   Aku berharap usaha Siti bisa terus berjalan, dan tentunya, bisa memenuhi wasiat ibunya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimpi

Mimpi “Nak, sudah jam 9, ayo tidur,” kata Mama kepadaku. “Ya, mah.” Aku pun naik ke kamarku, dan beranjak tidur. Sebenarnya, beberapa hari ini aku susah tidur. Aku selalu dirundung mimpi buruk yang terlihat nyata. Aku berdoa, semoga malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Lalu, aku pun tidur. Setelah beberapa saat, aku mulai bermimpi. Aku mengimpikan tentang keluargaku. Aku melihat papaku, mamaku, aku, dan adikku. “Wah, mimpi yang indah,” kataku dalam mimpi. Tapi, aku merasakan ada yang aneh. Tiba-tiba, mimpiku berubah drastis. Aku melihat Papa dan Liza, adikku. Mereka sedang naik pesawat. “Tunggu, Papa sama adek kan lagi naik pesawat,” pikirku dalam mimpi. Dan, aku melihat pesawat yang ditumpangi mereka jatuh. “Tidak!” teriakku sambil menangis, dalam mimpi. Mimpi buruk itu membuatku terbangun. “Ya ampun, semoga itu hanya mimpi,” kataku. Mama masuk ke kamarku, dengan wajah sedih. “Kenapa, ma?” tanyaku. “Nak, pesawat papa dan adi...

Petualangan Dimensi (Part 2)

Jika belum membaca part 1, harap klik disini Petualangan Dimensi (Part 2 Investigasi) Mereka pun sampai di sebuah dimensi, dimensi yang asing.  “Kita ada dimana?” tanya Hilmiya.  “Kita ada di sebuah dimensi. Aku bisa merasakan keberadaan mereka” kata Tuan Gregor.  “Siapa “mereka” itu?” tanya Steva.  “Novia dan James. Mereka adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai penjelajah dimensi, sama seperti saya. Mereka hilang 14 tahun yang lalu.” Kata Tuan Gregor.  “Jadi, orang yang hilang 14 tahun yang lalu itu bukan legenda?” tanya Lisa. “Memang, ayo kita jelajahi dimensi ini.” kata Tuan Gregor.  “Ayo” kata Steva, Hilmiya, dan Lisa bersamaan. Setelah beberapa lama menjelajah, mereka belum menemukan apapun.  “Tuan, aku capek. Bolehkah kita istirahat?” tanya Lisa. “Tunggu, aku belum- Oh, aku melihat sesuatu, dan kurasa kita harus menghindarinya.” Kata Tuan Gregor.  “Apa itu?” tanya Steva. “Penghuni dimensi ini, sebaiknya kita men...