Sekarang, aku menatap langit yang biru, sendiri, menatap masa laluku yang suram. Akan kuceritakan...
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Keluargaku terdiri dari ayahku, ibuku, aku, dan adikku. Kami hidup bahagia, meski dengan harta yang pas-pasan. Tapi, semua berubah...
Pada suatu hari, adikku pulang dari sekolahnya. Ia berjalan sendiri ke rumah, karena aku masih bersekolah dan ayah ibuku sedang bekerja.
Di tengah jalan, sebuah van putih menghampirinya, dan “Bam!”, ia pun tak sadarkan diri, dan diculik oleh orang-orang yang tidak dikenal. Tidak ada yang menyadari, hingga aku sampai di rumah.
Awalnya, kukira ia bermain petak umpet, tapi karena ia tidak ada, aku mulai cemas. Aku memutuskan untuk memanggil orang tuaku. Mereka bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya mereka, kami mencari adikku kemana-mana, tapi tidak ketemu. Sejak saat itu kami sadar, bahwa adikku hilang, lantas kami melaporkan hal itu ke polisi terdekat.
Di tengah jalan, sebuah van putih menghampirinya, dan “Bam!”, ia pun tak sadarkan diri, dan diculik oleh orang-orang yang tidak dikenal. Tidak ada yang menyadari, hingga aku sampai di rumah.
Awalnya, kukira ia bermain petak umpet, tapi karena ia tidak ada, aku mulai cemas. Aku memutuskan untuk memanggil orang tuaku. Mereka bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya mereka, kami mencari adikku kemana-mana, tapi tidak ketemu. Sejak saat itu kami sadar, bahwa adikku hilang, lantas kami melaporkan hal itu ke polisi terdekat.
Esoknya, ayahku mendapat panggilan, dan panggilan itu berasal dari penculik adikku, meminta tebusan sebesar 500 juta rupiah. Mana mungkin, kami makan saja pas-pasan, apalagi membayar tebusan itu. Ibu lantas memanggil polisi, memberitahukan mereka tentang hal itu. Polisi pun mencari adikku, kami pun hanya bisa menunggu.
2 hari kemudian, belum ada kabar. Hari itu hari Minggu, keluargaku sedang ada di rumah, karena hari itu hari libur.
Tiba-tiba, sebuah mobil polisi datang, membawa kabar. Kami berdoa, semoga itu kabar yang baik. Tapi, yang terjadi adalah kebalikannya. Adikku ditemukan meninggal, di sebuah rumah di tengah hutan. Ia dibunuh oleh para penculik itu dengan cara ditembak, lalu mereka lari entah kemana, polisi tidak berhasil menangkapnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil polisi datang, membawa kabar. Kami berdoa, semoga itu kabar yang baik. Tapi, yang terjadi adalah kebalikannya. Adikku ditemukan meninggal, di sebuah rumah di tengah hutan. Ia dibunuh oleh para penculik itu dengan cara ditembak, lalu mereka lari entah kemana, polisi tidak berhasil menangkapnya.
Mendengar kabar itu, kami sangat sedih, terutama ibuku. Ibuku lalu menderita depresi karena kejadian itu, dan ia bunuh diri 1 tahun kemudian, saat aku dan ayahku tidak ada di rumah.
Kami pun bertambah sedih, karena setelah adik tidak ada, ibu menyusulnya. Sekarang, tinggal kami berdua, aku dan ayahku.
Saat itu, aku hampir lulus SMA. Aku berencana untuk melanjutkan kuliah, tapi dengan ekonomi yang memburuk, aku ragu. Memang, ada beasiswa, tapi tidak semua orang bisa menerimanya. Aku memikirkan hal itu dengan ayahku.
Lalu, ayah berkata “Tidak apa-apa, nak. Kamu pasti bisa mendapat beasiswa itu. Kalaupun tidak, ayah akan coba membantumu”.
“Tapi yah, keuangan kita kan sedang memburuk. Sebaiknya, aku tidak usah kuliah saja, agar aku bisa membantu ayah.” kataku.
“Tidak usah nak, pendidikanmu lebih utama. Ayah akan coba sebisa mungkin agar kamu bisa kuliah.” kata ayahku.
Aku bertekad, untuk mendapat beasiswa, agar ayah tidak perlu repot, jika aku tidak mendapat beasiswa, sebaiknya aku tidak kuliah.
Saat itu, aku hampir lulus SMA. Aku berencana untuk melanjutkan kuliah, tapi dengan ekonomi yang memburuk, aku ragu. Memang, ada beasiswa, tapi tidak semua orang bisa menerimanya. Aku memikirkan hal itu dengan ayahku.
Lalu, ayah berkata “Tidak apa-apa, nak. Kamu pasti bisa mendapat beasiswa itu. Kalaupun tidak, ayah akan coba membantumu”.
“Tapi yah, keuangan kita kan sedang memburuk. Sebaiknya, aku tidak usah kuliah saja, agar aku bisa membantu ayah.” kataku.
“Tidak usah nak, pendidikanmu lebih utama. Ayah akan coba sebisa mungkin agar kamu bisa kuliah.” kata ayahku.
Aku bertekad, untuk mendapat beasiswa, agar ayah tidak perlu repot, jika aku tidak mendapat beasiswa, sebaiknya aku tidak kuliah.
Aku pun mengikuti program beasiswa. Memang sulit, tapi aku terpilih, dan aku bisa melanjutkan ke universitas. Ayahku turut bahagia.
“Selamat ya nak, gunakan dengan bijak beasiswamu” katanya.
“Selamat ya nak, gunakan dengan bijak beasiswamu” katanya.
Aku memutuskan untuk masuk ke Universitas Mandala, mengambil jurusan teknik. Semua baik-baik saja, tapi saat pertengahan kuliahku, sesuatu terjadi.
Suatu malam, ayahku pulang dari pekerjaannya. Saat itu mungkin sudah jam 11-12, karena ayahku harus lebur. Ayahku menggunakan sepeda motor untuk pulang.
Pada saat itu, aku sudah tertidur karena lelah mengerjakan tugas. Di tengah jalan, ayahku dirampok. Ayahku melawan para perampok itu, tapi sayang, para perampok itu bersenjata, dan ayahku tertusuk di dada dan tertembak. Para perampok itu pun mengambil bawaan ayahku dan lari entah kemana. Salah seorang penghuni rumah, yang mendengar tembakan, melihat ayahku terkapar di jalan, dan memanggil ambulans. Ayahku dilarikan ke rumah sakit.
Pada saat itu, aku sudah tertidur karena lelah mengerjakan tugas. Di tengah jalan, ayahku dirampok. Ayahku melawan para perampok itu, tapi sayang, para perampok itu bersenjata, dan ayahku tertusuk di dada dan tertembak. Para perampok itu pun mengambil bawaan ayahku dan lari entah kemana. Salah seorang penghuni rumah, yang mendengar tembakan, melihat ayahku terkapar di jalan, dan memanggil ambulans. Ayahku dilarikan ke rumah sakit.
Esok paginya, aku terbangun oleh sebuah panggilan, itu temanku, dan ia mengatakan bahwa ayahku dilarikan di rumah sakit, karena ia dirampok dan diserang oleh orang tak dikenal. Aku pun bergegas ke rumah sakit, dan mencari ayahku. Setelah bertanya ke beberapa dokter dan perawat, aku menemukan kamar ayahku. Ia sedang koma karena lukanya. Aku menangis, dan menunggunya disana.
1 minggu kemudian, kesehatan ayahku memburuk, dan... detak jantung ayahku berhenti, ia meninggal. Aku sangat sedih, mengiringinya hingga ke liang lahad. Sekarang aku sendiri, tanpa siapa-siapa.
Kuliah hampir selesai, teman-temanku senang, tapi tidak untuk aku. Aku masih sedih atas kepergian keluargaku. Aku pulang ke rumahku, dan memutuskan untuk bunuh diri. Aku sudah mengikat tali, dan aku hampir siap. Tapi tiba-tiba, sesuatu mengatakanku untuk tidak melakukannya. Aku mengikuti suara itu, dan memutuskan untuk melanjutkan hidupku.
Beberapa tahun kemudian, disinilah aku, menatap langit, yang berubah menjadi suram, sama seperti masa laluku. Aku memutuskan untuk masuk kembali ke rumah.
“Kuharap keluargaku masih disini”
Komentar
Posting Komentar